Khutbah Jum'at 19 September 2014
Masjid Nurul Huda Kartasari
Oleh Arif (Mahasiswa KKN STAIN Metro)
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ قَدِيْمِ اْلإِحْسَانِ، ذِي الْعَطَاءِ الْوَاسِعِ
وَاْلاِمْتِنَانِ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَأَشْكُرُهُ عَلَى مَا
أَوْلَدَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ،
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمِّدٍ
وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ اِتَّقُوا
اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ هُوَ الْمُنْعِمُ
الْمُتَفَضِّلُ، وَإِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللهِ لاَ تُحْصُوْهَا، إِنَّ
اْلإِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌ. وَاللهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُوْنِ
أُمَّهَاتِكُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ شَيْئًا لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ.
Ma’asyiral muslimin jama’ah sholat jum’ah rahimakumullah.
Pada kesempatan kali ini tak lupa saya wasiatkan kepada diri saya pribadi dan jama’ah semuanya, marilah kita tingkatkan kualitas iman dan taqwa kita, karena keimanan dan ketaqwaan adalah merupakan bekal yang paling berharga untuk menuju kehidupan di akhirat kelak.
Syukur alhamdulillah pada hari ini kita masih diberi kesempatan berkumpul dan bertatap muka sambil saling mengingatkan, betapa besarnya nikmat-nikmat yang telah dan sementara dianugrahkan Allah SWT kepada hamba-hambaNya, tidak terkecuali kita yang hadir di tempat yang mulia ini.
Begitu kita bangun pada dini hari tadi, terasa badan jadi bugar, semangat dan tenaga kerja rasanya pulih dan kembali segar, dan ini merupakan salah satu karunia nikmat yang kadang tidak banyak direnungkan dan diperhatikan. Bukankah kita telah merasakan nikmatnya tidur sepanjang malam. Sekujur badan terbujur lemas. Istirahat pulas dalam kondisi tidur adalah karunia Allah yang besar. Kita tentu bisa membayangkan, bila ternyata rasa kantuk tidak kunjung tiba, ini pertanda nikmatnya tidur tidak akan bisa dirasakan, tentunya yang terasa adalah keresahan dan kegelisahan. Ini baru sisi kecil karunia Allah untuk kehidupan umat manusia.
Allah SWT telah berfirman dalam surah Ibrahim ayat 34:
وَإِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللهِ لاَ تُحْصُوْهَا. إِنَّ اْلإِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌ
Artinya: “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).”
Ma’asyiral muslimin jama’ah sholat jum’ah rahimakumullah.
Begitulah memang besarnya nikmat Allah SWT yang telah dianugerahkan kepada hambaNya. Apalagi ini hanya sebagian kecil dari begitu banyak nikmat-nikmat lainnya yang tak terhitung jumlahnya.
Oleh karena itu dalam surat Ar-rahman, Allah SWT mewanti-wanti kepada hambaNya dengan mengulang-ulang sebanyak 31 kali peringatan bagi umat manusia dengan firmanNya:
فَبِأيِّ ءالاَءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Artinya: “NikmatKu manakah lagi yang kamu dustakan.”
Ma’asyiral muslimin jama’ah sholat jum’ah rahimakumullah.
Marilah kita berupaya untuk pandai-pandai meluangkan waktu merenung sejenak di tengah kesibukan mencari nafkah, betapa besar karunia Allah kepada diri kita, keluarga, kerabat kita, bangsa kita dan hamba Allah pada umumnya. Sebagai hasil renungan kita atas nikmat ini tentunya menimbulkan kesadaran dari lubuk hati yang dalam, kemudian tertuangkan dalam bentuk syukur, dan rasa syukur ini tidaklah punya arti sama sekali jika hanya dalam bentuk lisan semata.
Mensyukuri karunia Allah harus berupa pengakuan hati kepada kebesaran dan keagungan Allah dalam sikap dan tindakan nyata, yaitu dengan meningkatkan ketakwaan kepada Allah, membantu hajat hidup orang-orang yang dalam kesempitan, menghibur orang-orang yang dalam kesedihan, membantu mereka yang membutuhkan pertolongan, meyantuni anak-anak yatim dan lain sebagainya.
Ma’asyiral muslimin jama’ah sholat jum’ah rahimakumullah.
Realisasi rasa syukur tersebut, bukanlah suatu perbuatan yang sia-sia, tapi justru akan kian mempertebal Iman dan Takwa kepada Sang Maha Pencipta, dan yang terpenting kita akan terhindar dari murka dan siksaan Allah seperti FirmanNya dalam surat Al-An’am ayat 46 yang berbunyi:
قُلْ أرَءَيْتُمْ إِنْ أَخَذَ اللهُ سَمْعَكُمْ وَأَبْصرَكُمْ وَخَتَمَ عَلَى قُلُوْبِكُمْ مَنْ إِلهٌ غَيْرُ اللهِ يَأْتِيْكُمْ بِهِ، أُنْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ اْلأيَاتِ ثُمَّ هُمْ يَصْدِفُوْن
Artinya: “Katakanlah, terangkanlah kepadaKu jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu? Perhatikanlah bagaimana (Kami) berkali-kali memperlihatkan tanda-tanda kebesaran (Kami) kemudian mereka tetap berpaling juga.”
Satu hal lagi yang lebih membesarkan hati kita yakni adanya jaminan Allah SWT bagi hambaNya dengan firmanNya dalam surat Ibrahim ayat 7:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيْدَنَّكُمْ، وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
Artinya: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema’lumkan: Sesungguhnya jika kalian bersyukur niscaya Aku tambahkan bagimu beberapa kenikmatan, dan jika kamu sekalian mengingkarinya ingatlah siksaKu sangat pedih.”
Marilah kita memohon kehadirat Allah SWT semoga Allah menjauhkan kita dari perbuatan kufur nikmat dan memberikan limpahan karunia agar kita tetap termasuk dalam golongan orang-orang yang bisa mensyukuri nikmatNya, Amin, Amin, Ya Robbal Alamin.
Artinya: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema’lumkan: Sesungguhnya jika kalian bersyukur niscaya Aku tambahkan bagimu beberapa kenikmatan, dan jika kamu sekalian mengingkarinya ingatlah siksaKu sangat pedih.”
Marilah kita memohon kehadirat Allah SWT semoga Allah menjauhkan kita dari perbuatan kufur nikmat dan memberikan limpahan karunia agar kita tetap termasuk dalam golongan orang-orang yang bisa mensyukuri nikmatNya, Amin, Amin, Ya Robbal Alamin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar