Jumat, 26 September 2014

Amalan Bulan Dzulhijjah

Khutbah Jum'at 26 Septembar 2014
Masjid Nurul Huda Desa Kartasari
Oleh Bapak Jumari

الْحَمْدُ للهِ القَوِيِّ المَتِينِ، سُبْحَانَهُ خَلَقَ الإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ، وَهَدَاهُ لِلْمَنْهَجِ القَوِيمِ، وَسَنَّ شَرَائِعَ فِيهَا القُوَّةُ وَالتَّمكِينُ، بِحِكْمَتِهِ نُؤْمِنُ، وَبِقُدْرَتِهِ نُوقِنُ، عَلَيْهِ نَتَوَكَّلُ، وَإِيَّاهُ نَستَعِينُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

Ayyuhal muslimuun hafidzakumullah, 

Kita saat ini tengah berada di awal bulan Dzulhijjah 1432 H. Dengan demikian kita telah 2 bulan keluar dari madrasah Ramadhan, dan kini bersiap dengan tarbiyah Allah SWT yang lain, yakni madrasah Dzulhijjah. Mengapa disebut madrasah Dzulhijjah? Karena pada bulan ini ada ibadah besar yang sarat dengan nilai-nilai tarbiyah, yaitu ibadah haji. Bagi kita yang tidak berhaji pun, kesempatan emas terbuka untuk meraih banyak keutamaan di bulan Dzulhijjah. Memperbanyak ibadah pada tanggal 1 Dzulhijjah sampai dengan 10 Dzulhijjah merupakan pilihan yang cerdas, sebab banyak hadits yang menjelaskan keutamaannya. Ibadah itu bisa berupa memperbanyak shadaqah, berdzikir, tilawah, dan amal shalih lainnya. 

Rasulullah SAW bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ فِيهِ أَفْضَلُ مِنْ عَشَرِ ذِي الْحِجَّةِ، قِيلَ: وَلا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟ قَالَ: وَلا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ :« وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْجِعْ بِشَىْءٍ

“Tidak ada hari-hari di mana amal shalih lebih disukai oleh Allah Azza wa Jalla dari pada hari-hari ini, yakni hari pertama hingga kesepuluh Dzulhijjah.” Para shahabat pun bertanya, “Ya Rasulullah, meskipun dibandingkan dengan berjihad fi sabilillah?” Beliau menjawab, “Memang, meskipun dibandingkan dengan berjihad fi sabilillah, kecuali seorang yang pergi membawa nyawa dan hartanya, kemudian tidak satu pun diantara keduanya itu yang kembali (mati syahid).” (HR. Jamaah kecuali Muslim dan Nasai).

Jama’ah Shalat Jum’at rahimakumullah, 

Selain amalan-amalan sholih secara umum maka Rasulullah menganjurkan kepada kita untuk melakukan amalan sholeh secara khusus yaitu: 

Yang Pertama: Puasa Arafah 

Puasa ini disunnahkan bagi kita yang tidak sedang mengerjakan haji. Adapun bagi mereka para jamaah haji, mereka tidak diperbolehkan berpuasa. Saat itu mereka harus wukuf di Arafah. Dengan demikian, keutamaan hari Arafah bisa dinikmati oleh orang yang sedang berhaji maupun yang tidak sedang berhaji. 

Keutamaan puasa Arafah ini diriwayatkan oleh Abu Qatadah r.a.:

سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ( رواه مسلم)

Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa hari Arafah, beliau menjawab, “Puasa itu menghapus dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun berikutnya.” (HR. Muslim).

Subhaanallah, luar biasa. Mendengar keutamaan puasa Arafah ini, pantaslah bila pada hari Arafah itu banyak orang yang dibebaskan Allah SWT dari siksa neraka.

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ

"Tidak ada satu hari yang pada hari itu Allah membebaskan para hamba dari api neraka yang lebih banyak dibandingkan hari Arafah." (HR. Muslim).

Jama’ah Shalat Jum’at rahimakumullah, 

Kedua: Shalat Idul Adha 

Amal khusus di bulan Dzulhijjah berikutnya adalah Shalat Idul Adha. Jumhur ulama’ menjelaskan bahwa hukumnya sunnah muakkad, sebagaimana firman Allah:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Dirikanlah shalat dan berqurbanlah (an nahr).” (QS. Al Kautsar: 2). Maksud ayat ini adalah perintah untuk melaksanakan shalat idul adha. 

ketiga: Berqurban 

Amal lainnya yang sangat istimewa dan khusus di bulan Dzulhijjah ini adalah qurban bagi kita yang mampu. Ibadah ini juga sarat dengan nilai tarbiyah. Bahkan sejarah disyariatkannya qurban pada masa Nabi Ibrahim adalah sejarah pengorbanan, ketaatan, serta proses taurits di dalam keluarga muslim. 

Adapun keutamaan qurban sebagaimana yang disebutkan dalam hadits:

مَا عَمِلَ آدَمِىٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ إِنَّهَا لَتَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلاَفِهَا وَإِنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللَّهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنَ الأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا

"Tidak ada amalan yang diperbuat manusia pada Hari Raya Kurban yang lebih dicintai oleh Allah selain menyembelih hewan. Sesungguhnya hewan kurban itu kelak pada hari kiamat akan datang beserta tanduk-tanduknya, bulu-bulu, dan kuku kukunya. Sesungguhnya sebelum darah kurban itu mengalir ke tanah, pahalanya telah diterima Allah. Maka tenangkanlah jiwa dengan berkurban." (HR. Tirmidzi).

Jama’ah Shalat Jum’at rahimakumullah, 

Demikianlah amal-amal umum dan khusus selama bulan Dzulhijjah. Semoga Dzulhijjah 1432 ini semakin mendekatkan kita kepada Allah SWT sehingga kita memperoleh ridha, rahmat, dan ampuan-Nya. Dengan demikian, kita bisa berharap bertemu Allah kelak di surga.

Sabtu, 20 September 2014

Kewajiban Menuntut Ilmu

Assalamualaikum Sobat Kultum Islami..

Menuntut Ilmu merupakan kewajiban setiap muslim Rasulullah SAW bersabda :

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِ يْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُـسْلِمٍ وَ مُسْلِمَةٍ 

Artinya : “ Menuntut ilmu ( itu ) wajib bagi setiap muslim laki – laki dan perempuan". ( H.R. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Nasai )
 


Ilmu sangatlah penting bagi seseorang dalam segala hal. Ilmu laksana pelita, ilmu adalah cahaya dalam kegelapan. Dalam melakukan segala sesuatu supaya mendapatka hasil yang baik, diperlukan ilmu, yakni ilmu pengetahuan yang menjadikan seseorang mengetahui dan paham akan kualitas hasil yang diusahakan, sebagai contoh seseorang akan tahu kualitas ibadah kepada Allah apabila ia mengetahui ilmu pengetahuan syarat – syarat suatu ibadah, nilai dan makna yang penting.

Seorang petani tidak akan menjadi petani yang sukses tanpa mengetahui ilmu dan cara bercocok tanam. Begitu pula seorang pedagang tidak akan menjadi pedagang yang sukses tanpa tahu ilmu dan cara berdagang.

Rasulullah SAW mengajak umatnya untuk mencari ilmu sejak ayunan bunda hingga liang lahad. Sebagaimana sabda beliau :

اُ طْلُبُوْا العِلْمِ مِنَ المَهْدِ اِلَى اللَّحْدِ

Artinya : “ Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat” .

Untuk itu, maka kewajiban kita adalah mencetak pola pikir kita agar menjadi orang yang berpengetahuan luas. Yang siap menghadapi tantangan zaman, arus globalisasi, serta perkembangan teknologi yang semakin canggih. Sebagai penerus bangsa, kita harus menjadi anak bangsa yang berkualitas dalam segala hal dan harus memiliki cita – cita yang tinggi demi masa depan kita yang cerah nanti. Oleh karena itu, kita tidak boleh bermalas – malasan dalam belajar agar menjadi orang yang berguna kelak. Sebagai penerus bangsa pula, sudah sewajarnya bagi kita untuk mempunyai semangat juang yang tinggi demi kemajuan bangsa, karena masa depan bangsa ada di tangan kita.

اِنَّ فِيْ يَدِ الشُّبَّا نِ أَ مْرُ الاُ مَِّةِ وَ فِي أَ قْدَا مِهَا حَيَا تَهَا

Artinya : “ Sesungguhnya di tangan pemuda terletak urusan ummat dan pada keberaniannya terletak kehidupan ummat ” .

Demikianlah artikel ini semoga bermanfaat...

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Jumat, 19 September 2014

Mensyukuri Nikmat Alloh SWT

Khutbah Jum'at  19 September 2014
Masjid Nurul Huda Kartasari
Oleh Arif (Mahasiswa KKN STAIN Metro)


اَلْحَمْدُ لِلَّهِ قَدِيْمِ اْلإِحْسَانِ، ذِي الْعَطَاءِ الْوَاسِعِ وَاْلاِمْتِنَانِ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَأَشْكُرُهُ عَلَى مَا أَوْلَدَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمِّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ هُوَ الْمُنْعِمُ الْمُتَفَضِّلُ، وَإِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللهِ لاَ تُحْصُوْهَا، إِنَّ اْلإِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌ. وَاللهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُوْنِ أُمَّهَاتِكُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ شَيْئًا لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ.

Ma’asyiral muslimin jama’ah sholat jum’ah rahimakumullah. 

Pada kesempatan kali ini tak lupa saya wasiatkan kepada diri saya pribadi dan jama’ah semuanya, marilah kita tingkatkan kualitas iman dan taqwa kita, karena keimanan dan ketaqwaan adalah merupakan bekal yang paling berharga untuk menuju kehidupan di akhirat kelak. 

Syukur alhamdulillah pada hari ini kita masih diberi kesempatan berkumpul dan bertatap muka sambil saling mengingatkan, betapa besarnya nikmat-nikmat yang telah dan sementara dianugrahkan Allah SWT kepada hamba-hambaNya, tidak terkecuali kita yang hadir di tempat yang mulia ini. 

Begitu kita bangun pada dini hari tadi, terasa badan jadi bugar, semangat dan tenaga kerja rasanya pulih dan kembali segar, dan ini merupakan salah satu karunia nikmat yang kadang tidak banyak direnungkan dan diperhatikan. Bukankah kita telah merasakan nikmatnya tidur sepanjang malam. Sekujur badan terbujur lemas. Istirahat pulas dalam kondisi tidur adalah karunia Allah yang besar. Kita tentu bisa membayangkan, bila ternyata rasa kantuk tidak kunjung tiba, ini pertanda nikmatnya tidur tidak akan bisa dirasakan, tentunya yang terasa adalah keresahan dan kegelisahan. Ini baru sisi kecil karunia Allah untuk kehidupan umat manusia.  

Allah SWT telah berfirman dalam surah Ibrahim ayat 34:

وَإِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللهِ لاَ تُحْصُوْهَا. إِنَّ اْلإِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌ 

Artinya: “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” 

Ma’asyiral muslimin jama’ah sholat jum’ah rahimakumullah. 

Begitulah memang besarnya nikmat Allah SWT yang telah dianugerahkan kepada hambaNya. Apalagi ini hanya sebagian kecil dari begitu banyak nikmat-nikmat lainnya yang tak terhitung jumlahnya. 

Oleh karena itu dalam surat Ar-rahman, Allah SWT mewanti-wanti kepada hambaNya dengan mengulang-ulang sebanyak 31 kali peringatan bagi umat manusia dengan firmanNya:

فَبِأيِّ ءالاَءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Artinya: “NikmatKu manakah lagi yang kamu dustakan.” 

Ma’asyiral muslimin jama’ah sholat jum’ah rahimakumullah. 

Marilah kita berupaya untuk pandai-pandai meluangkan waktu merenung sejenak di tengah kesibukan mencari nafkah, betapa besar karunia Allah kepada diri kita, keluarga, kerabat kita, bangsa kita dan hamba Allah pada umumnya. Sebagai hasil renungan kita atas nikmat ini tentunya menimbulkan kesadaran dari lubuk hati yang dalam, kemudian tertuangkan dalam bentuk syukur, dan rasa syukur ini tidaklah punya arti sama sekali jika hanya dalam bentuk lisan semata. 

Mensyukuri karunia Allah harus berupa pengakuan hati kepada kebesaran dan keagungan Allah dalam sikap dan tindakan nyata, yaitu dengan meningkatkan ketakwaan kepada Allah, membantu hajat hidup orang-orang yang dalam kesempitan, menghibur orang-orang yang dalam kesedihan, membantu mereka yang membutuhkan pertolongan, meyantuni anak-anak yatim dan lain sebagainya.

Ma’asyiral muslimin jama’ah sholat jum’ah rahimakumullah. 

Realisasi rasa syukur tersebut, bukanlah suatu perbuatan yang sia-sia, tapi justru akan kian mempertebal Iman dan Takwa kepada Sang Maha Pencipta, dan yang terpenting kita akan terhindar dari murka dan siksaan Allah seperti FirmanNya dalam surat Al-An’am ayat 46 yang berbunyi:

قُلْ أرَءَيْتُمْ إِنْ أَخَذَ اللهُ سَمْعَكُمْ وَأَبْصرَكُمْ وَخَتَمَ عَلَى قُلُوْبِكُمْ مَنْ إِلهٌ غَيْرُ اللهِ يَأْتِيْكُمْ بِهِ، أُنْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ اْلأيَاتِ ثُمَّ هُمْ يَصْدِفُوْن


Artinya: “Katakanlah, terangkanlah kepadaKu jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu? Perhatikanlah bagaimana (Kami) berkali-kali memperlihatkan tanda-tanda kebesaran (Kami) kemudian mereka tetap berpaling juga.” 

Satu hal lagi yang lebih membesarkan hati kita yakni adanya jaminan Allah SWT bagi hambaNya dengan firmanNya dalam surat Ibrahim ayat 7:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيْدَنَّكُمْ، وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ 

Artinya: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema’lumkan: Sesungguhnya jika kalian bersyukur niscaya Aku tambahkan bagimu beberapa kenikmatan, dan jika kamu sekalian mengingkarinya ingatlah siksaKu sangat pedih.” 

Marilah kita memohon kehadirat Allah SWT semoga Allah menjauhkan kita dari perbuatan kufur nikmat dan memberikan limpahan karunia agar kita tetap termasuk dalam golongan orang-orang yang bisa mensyukuri nikmatNya, Amin, Amin, Ya Robbal Alamin.

Rabu, 17 September 2014

Kesalahan-kesalahan Yang Banyak Dilakukan Kaum Wanita

Jika kita melihat sekeliling kita, maka akan terlihat beberapa kesalahan yang banyak dilakukan oleh kaum wanita khususnya yang muslimah, antara lain:

1. Memamerkan diri (Tabarruj yang dilarang) 

 Yang dimaksud dengan memamerkan diri (tabarruj) yang dilarang di sini adalah menampakkan sesuatu yang sepatutnya ditutupi. Menurut Miqati bin Hayyam, termasuk kategori memamerkan diri atau tabarruj adalah melepas petutup kepala atau kerudung dari kepalanya sehingga terlihat kalung, anting-anting dan lehernya.
Padahal Allah ‘Azza wa Jalla telah memerintahkan kepada perempuan agar menahan pandangan mereka dan tidak menampakkan perhiasan yang mereka pakai, kecuali di hadapan mahram-mahram mereka. 

“Katakanlah kepada perempuan yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak darinya. Dan hendaklah mereka menutup kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak darinya, ... (QS Annur : 31)

Menurut ayat ini, seorang muslimah tidak boleh menampakkan perhiasannya kecuali perhiasan yang memang tidak mungkin untuk disembunyikan, seperti selendang, tutup kepala atau pakaian luar dari seorang wanita. Akan tetapi selain dari itu, maka ia wajib untuk ditutupi. Ayat ini juga membolehkan wanita untuk menampakkan perhiasannya kepada mahram mereka. Ini berarti bahwa apa yang dilakukan oleh sebagian besar kaum wanita saat ini yang menampakkan perhiasannya kepada yang bukan mahramnya adalah merupakan pelanggaran syariat yang sangat besar yang bisa menyebabkan mereka masuk ke dalam neraka.

2. Tidak menutup aurat (tidak memakai hijab syar’i)

 
Kesalahan ini termasuk kesalahan yang besar karena selain ia merupakan pelanggaran terhadap syariat Allah dan Rasul-Nya, ia akan menjadi penyebab datangnya musdarat baik bagi wanita itu sendiri maupun bagi orang lain. Seorang wanita yang tidak menutup auratnya ketika keluar dari rumahnya atau ketika berhadapan dengan seorang yang bukan mahramnya, maka akan terangkat atau hilang harkat dan martabatnya. Mengapa demikian? Aurat adalah sesuatu yang aib (malu) untuk diperlihatkan sehingga jika seorang aurat seorang wanita nampak, maka akan nampak pula aibnya, dan ia akan merasa malu karenanya. 


Sangat disayangkan, jika kaum wanita saat ini, khususnya muslimah sudah tidak lagi merasa malu untuk membuka auratnya dan menganggap itu sebagai suatu perkara yang lumrah. Akibatnya, nudah ditebak. Berbagai kasus pelecehan terhadap kaum wanita, pornografi, pemerkosaan, perilaku-perilaku yang tidak senonoh, biasanya berasal dari terlihatnya atau tersingkapnya aurat si wanita. Jika saja wanita tersebut menutup auratnya dengan baik, maka apa yang bisa mereka lihat? Jika sudah tidak ada lagi yang bisa mereka lihat, maka bagaimana lagi mereka bisa melakukan tindak pelecehan

3. Tidak berdiam di rumah (lebih senang berkeliaran di luar rumah)

 
Allah ‘Azza wa jalla berfirman dalam Al Qur’an Surah Al Ahdzab : 33:
وَقَرْنَ فِىبُيُوتِكُنَّ
“Dan hendaklah kamu tetap di rumah-rumahmu…

Berdasarkan ayat ini, maka sebaik-baik tempat bagi seorang wanita adalah di rumahnya. Ia ibarat markaz bagi seorang wanita, tempat ia melaksanakan semua aktivitas kehidupannya. Rumah adalah medan jihad bagi kaum wanita sama dengan peperangan menjadi medan jihad bagi kaum laki-laki. Akan tetapi meski demikian, wanita masih diperbolehkan untuk keluar dari rumah mereka bila ada keperluan yang dibenarkan menurut syariat, misalnya untuk menuntut ilmu. Itupun dengan syarat:

- Wajib menutup auratnya (mengenakan hijab syar’i)
- Seizin suami atau walinya
- Disertai mahram (jika safar atau keluar rumah malam hari untuk keperluan darurat)

Seorang wanita mukminah sepatutnya menanamkan rasa malu pada dirinya, apabila ia keluar rumah terlalu lama apalagi untuk hal-hal yang semestinya tidak perlu ia lakukan. Apalagi jika itu hanya sekedar untuk jjss (jalan-jalan sore sendiri), refreshing, berkeliaran di mal-mal, tempat-tempat hiburan, dan lain sebagainya.

4. Lebih senang melakukan perbuatan-perbuatan dan perkataan-perkataan maksiat dan sia-sia.

Jika ada yang bertanya, apa yang suka dilakukan kaum wanita selain mengurus rumah tangganya? Maka biasanya orang akan menjawab: “Ngerumpi”. Ngerumpi ini sudah menjadi trend mark-nya wanita. Dan sudah menjadi rahasia umum jika yang dibicarakan itu adalah isu-isu dan gosip-gosip seputar masalah rumah tangga, perselingkuhan, dan kabar-kabar angin yang belum tentu jelas ujung pangkalnya.

5. Durhaka kepada suami

Durhaka kepada suami adalah menolak untuk melakukan apa yang diminta oleh suami. Adalah kewajiban istri untuk melaksanakan perintah suaminya selama itu adalah dalam rangka ketaatan kepada Allah ‘Azza wa jalla. Begitu besarnya kewajiban istri untuk mengikui suami sehingga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah menyampaikan bahwa jika sekiranya beliau diperbolehkan memerintahkan seorang manusia untuk bersujud kepada manusia yang lain, maka beliau akan memerintahkan para istri untuk sujud kepada suami-suami mereka. 

Yang terjadi di masyarakat kita adalah adanya kecenderungan para istri untuk membangkang terhadap suami mereka, termasuk dalam hal ini adalah kelalaian mereka dalam menjalankan tugasnya sebagai istri dan sebagai ibu rumah tangga. Mereka lebih senang sibuk dalam aktivitas di luar rumah, mengejar karir di luar rumah dan melupakan urusan rumah tangganya, menganggap pekerjaan melayani suami sebagai pekerjaan yang merendahkan martabatnya, menyerahkan urusan merawat anak kepada pembantu atau baby sitter, sibuk dalam berbagai perkumpulan arisan atau klub-klub wanita, dan sebagainya. 

Tidaklah heran jika kemudian keluarga-keluarga yang terbentuk adalah keluarga yang jauh dari kriteria baiti jannati, rumah yang betul-betul menjadi the real home bagi para anggota keluarga. Yang terjadi adalah para suami yang karena tidak mendapati istrinya di rumah, kemudian ‘jajanan’ di luar, anak-anak yang mencari perlindungan dengan mencoba narkoba, pergaulan bebas, dan lain sebagainya. Benarlah perkataan bahwa wanita itu adalah tiang negara. Jika tiangnya bagus, maka insya Allah negaranya juga baik, sebaliknya jika tiangnya jelek, maka akan binasa jugalah suatu negara.

Minggu, 14 September 2014

Haji Mabrur

Ceramah Haji Minggu 14 September 2014
Kediaman Bapak Sukar, Kartasari
Oleh KH. Imam Bukhori

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, Keluarga dan Sahabatnya. 

Sepulang dari haji tentu saja setiap yang berhaji ingin menjadi haji mabrur. Karena balasan haji mabrur sungguh luar biasa. Dalam hadits disebutkan: Dan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga". (HR. Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349). Oleh karena balasannya demikian, maka para ulama saling mendoakan agar haji mereka pun mabrur. Lalu mereka menyebutkan pula apa saja yang menjadi tanda haji mabrur. 

Haji mabrur adalah haji yang di dalamnya terkumpul amalan kebaikan dan menjauhi setiap dosa. Do’a yang paling bagus yang hendaknya diucapkan bagi orang yang berhaji bagi dirinya sendiri dan dari orang lain untuknya adalah semoga haji yang dilakukan adalah haji yang mabrur. Oleh karena itu, dianjurkan bagi orang yang berhaji setelah ia melaksanakan amalan haji, bahkan setelah ia bertahallul (boleh melakukan larangan ihram) ketika selesai melempar jumrah ‘aqobah pada hari nahr (Idul Adha, 10 Dzulhijjah) untuk saling mendoakan:
اللَّهُمَّ اجْعَلْ حَجًّا مَبْرُوْرًا وَ سَعْيًا مَشْكُوْرًا وَ ذَنْبًا مَغْفُوْرًا
Allahummaj’al hajjan mabruron, wa sa’yan masykuron, wa dzanban maghfuron [Semoga Allah menganugerahkan haji yang mabrur, usaha yang disyukuri dan dosa yang diampuni]”. Inilah do’a yang dikatakan diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Umar. Bahkan disebutkan diriwayatkan secara marfu’ (sampai pada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam). Begitu pula diucapkan pada orang yang baru pulang dari haji. 

Dicontohkan pula oleh salaf, yaitu ketika Kholid bin Al Hazza’ berhaji dan kembali, maka Abu Qilabah berkata padanya:
بَرَّ العَمَلُ
“Semoga Allah menjadikan amalmu mabrur.” 

Al Hasan Al Bashri berkata: “Balasan dari haji mabrur adalah surga. Tanda haji mabrur adalah seseorang kembali dari haji dalam keadaan zuhud dalam hal dunia dan semangat menggapai akhirat.” Beliau mengatakan pula bahwa tanda haji mabrur adalah meninggalkan kejelekan setelah haji. 

Ibnu Rajab mengatakan: “Tanda diterimanya suatu amalan kebaikan adalah amalan tersebut dilanjutkan dengan kebaikan. Tanda tidak diterimanya suatu amalan adalah amalan baik malah dilanjutkan dengan maksiat.” 

Ya Allah, berikanlah keteguhan pada kami dalam ketaatan hingga kematian menjemput kami. Imam Ahmad memanjatkan do’a: “Allahumma a’izzani bitho’atik wa laa tadzillani bi ma’shiyatik [Ya Alah, berilah kemuliaan kepadaku dengan taat pada-Mu dan janganlah beri kehinaan padaku dengan bermaksiat padamu].”

Jumat, 12 September 2014

Amalan Yang Tidak Akan Putus

Ceramah Ba'da Magrib
Musola Al Amin Kartasari
Oleh Arif (Mahasiswa KKN STAIN Metro)

Segala puji hanya milik Allah Yang mempunyai segala apa yang ada di langit maupun di bumi. Bagi-Nya segala pujian di dunia maupun di akherat dan Dialah Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui. Sesungguhnya manusia diciptakan di alam kehidupan ini bertujuan untuk beramal, kemudian nanti akan dibangkitkan di hari kiamat untuk dibalas berdasarkan apa yang telah mereka amalkan. Maka manusia tidak diciptakan sia-sia, juga tidak ditelantarkan begitu saja. Orang yang beruntung adalah orang yang telah memberikan kebaikan untuk dirinya yang akan dia dapatkan simpanannya di sisi Allah. Dan orang yang celaka adalah orang yang yang memberikan kejelekan untuk dirinya yang akan mengakibatkan kesengsaraan.
 
Lihatlah kepada amal-amalmu, dan mawas dirilah sebelum datang ajalmu, karena kematian menandakan terputusnya amalan dan merupakan permulaan menuai balasan. Kematian begitu dekat namun kalian tak mengetahui kapan datangnya. Dan perhitungan amal sangat teliti namun kalian tak mengetahui kapan saatnya. Rambut beruban telah memberikan tanda peringatan akan kematian, maka bersiaplah menghadapinya. Kematian teman karib seseorang menandakan dekatnya kematian dirinya.
 
Ingatlah kematian, beramallah untuk menghadapi masa sesudahnya yang pasti kalian akan datang menemuinya dan menetap di sana. Jangan sampai dilalaikan dengan sesuatu yang kalian datangi tapi akan segara kalian tinggalkan. Jangan tertipu dengan impian-impian panjang lalu menjadi lupa dengan kedatangan ajal. Berapa banyak orang yang mendambakan sesuatu lalu tidak bisa dia dapatkan. Berapa banyak orang yang hidup dalam waktu paginya suatu hari, lalu tak menemui waktu sorenya; atau mengalami sorenya suatu malam namun tak menemui paginya. Berapa banyak orang ketika datang ajalnya berangan untuk ditunda beberapa saat lagi agar dia bisa memperbaiki kesalahannya serta melakukan apa yang telah dia lupakan. Maka dikatakan padanya : “Mustahil, apa yang kau harapkan telah berlalu, kami telah memperingatkanmu sebelumnya dan kami telah ancam kamu bahwa tidak ada waktu lagi untuk kembali”. 

Allah berfirman (yang artinya) :
 
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi. Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata : “Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh? Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al Munafiqun : 9-11)
 
Sebenarnya seseorang itu terhenti amalnya tatkala datang kematiannya. Tetapi ada beberapa amalan yang dilakukan pada saat hidupnya dan manfaatnya terus-menerus dipakai, maka pahalanya akan terus mengalir kepada pelakunya meskipun temponya berlangsung lama. Dan itu berbentuk segala usaha kebaikan yang bisa bermanfaat bagi manusia ataupun binatang ternak; seperti wakaf-wakaf untuk kebaikan, pohon-pohon berguna yang berbuah, sumber-sumber air minum, membangun masjid-masjid dan madrasah, anak keturunan yang shalih, mengajarkan ilmu bermanfaat dan mengarang kitab-kitab yang berfaedah.
Di dalam As Shahih diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
 
“Apabila seorang anak Adam meninggal, maka akan terputus amalannya kecuali tiga perkara : shadaqoh jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakan kepadanya”.
 
Hadits ini menunjukkan terputusnya amalan seseorang itu dengan kematiannya, dan waktu untuk beramal adalah selama dia masih berada dalam kehidupannya. Maka wajib bagi seorang muslim untuk berhati-hati dari sikap lalai dan membuang-buang waktu, dan hendaklah bersegera melakukan ketaatan sebelum datang kematian, tidak mengakhirkannya sampai waktu yang mungkin tidak bisa dia gapai. Dalil-dalil yang menunjukkan perintah untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, bersegera dalam melakukan ketaatan dan bercepat-cepat untuk melakukan amalan banyak, menandakan bahwa kalau tidak segera dikerjakan hal itu akan luput dari tangan kita. Hadits tadi menunjukkan dikecualikannya amalan kebaikan yang terus bisa dimanfaatkan setelah meninggalnya orang yang melakukannya, tidak terputus dengan kematian dia. Bahkan pahalanya akan terus mengalir selama bermanfaat meskipun bisa bertahan sampai lama.
 
Perkara-perkara itu adalah :

Pertama : shadaqah jariyah
Para ulama telah menafsirinya dengan wakaf untuk kebaikan. Seperti mewakafkan tanah, masjid, madrasah, rumah hunian, kebun kurma, mushaf, kitab yang berguna, sumber-sumber air minum berupa sumur, bak, kran-kran minum dengan pendingin, dan lain sebagainya. Disini merupakan dalil disyariatkannya mewakafkan barang yang bermanfaat dan perintah untuk melakukannya, bahkan itu termasuk amalan yang paling mulia yang bisa dilakukan seseorang untuk kemuliaan dirinya di akhirat. Yang pertama ini bisa dilakukan oleh para ulama maupun orang awam.
 
Kedua : ilmu yang bermanfaat
Hal ini bisa dilakukan dengan cara seseorang mengajarkan ilmu kepada manusia perkara-perkara agama mereka. Ini khusus bagi para ulama yang menyebarkan ilmu dengan cara mengajar, mengarang dan menuliskannya. Orang yang awam juga bisa melakukannya dengan cara ikut serta di dalamnya berupa mencetak kitab-kitab yang bermanfaat atau membelinya lalu menyebarkannya atau mewakafkannya. Juga membeli mushaf lalu membagikannya kepada orang-orang yang membutuhkan atau meletakkannya di masjid-masjid. Hal ini menganjurkan kita untuk mempelajari ilmu dan mengajarkannya, menyiarkannya dan menyebarluaskan kitab-kitabnya agar bisa mengambil manfaat sebelum dan sesudah kematian dia.
 
Manfaat ilmu akan tetap ada selama di permukaan bumi ini masih ada seorang muslim yang sampai kepadanya ilmu tersebut. Berapa banyak ulama yang meninggal semenjak ratusan tahun yang lalu tetapi ilmunya masih ada dan dimanfaatkan melalui kitab-kitab yang telah dikarangnya lalu dipakai dari generasi ke generasi sesudahnya dengan perantara para muridnya kemudian para pencari ilmu setelah mereka. Dan setiap kali kaum muslimin menyebutkan nama dia, mereka selalu mendoakan kebaikan dan mendoakan agar Allah merahmati dia. Ini adalah fadhilah dari Allah yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki. Berapa banyak generasi yang diselamatkan Allah dari kesesatan dengan jasa seorang alim, maka alim itu mendapatkan seperti pahala orang yang mengikutinya sampai hari kiamat.
 
Ketiga : anak shalih
Anak shalih baik laki-laki maupun perempuan, anak kandung maupun cucu, akan terus mengalir kemanfaatan mereka untuk para orang tua berkat doa baik yang diterima Allah untuk ibu bapak mereka. Juga shadaqah yang dilakukan anak-anak shalih untuk orang tua, juga hajinya, bahkan doa yang diucapkan orang yang pernah mendapatkan kebaikan dari anak-anak tersebut. Seringkali orang yang mendapatkan kebaikan dari seseorang dia mengatakan : “Semoga Allah merahmati orang tuamu dan mengampuni mereka”.
Disini juga menunjukkan anjuran untuk menikah, dengan tujuan untuk mendapatkan anak yang shalih, dan melarang dari membenci banyaknya anak. Sebagian manusia kadang terpengaruh dengan propaganda-propaganda sesat sampai dia membenci banyaknya anak dan berusaha untuk membatasi kelahiran atau bahkan mengajak orang lain melakukan hal yang sama. Ini dikarenakan kebodohan mereka terhadap ilmu agama dan ketidaktahuan mereka tentang hasil yang akan didapatkan nanti, serta disebabkan karena lemahnya iman.
Dalam hadits tadi juga terdapat anjuran untuk mendidik anak agar menjadi shalih dan menumbuhkan mereka dalam ajaran Islam dan dalam keshalihan agar mereka menjadi generasi yang shalih buat orang tua mereka yang nantinya mendoakan kebaikan kepada mereka setelah meninggal. Dan terus menerus kebaikan pahala akan mengalir meskipun telah terputus amalan orang tua.

Semoga apa yang saya sampaikan ini dapat bermanfaat bagi jama'ah sekalian. amin...

Mendahulukan Kecintaan Kepada Allah Subhanahu wata’ala & Rasul-NYA

Khutbah Jum'at 12 September 2014
Masjid Nurul Huda Desa Kartasari
Oleh Bapak Budiono

الْحَمْدُ لِلهِ لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَهُ الْحَمْدُ فِيْ اْلآخِرَةِ وَهُوَ الْحَكِيْمُ الْخَبِيْرُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ فِيْ الْمُلْكِ وَالتَّدْبِيْرِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْبَشِيْرُ النَّذِيْرُ وَالسِّرَاجُ اْلمُنِيْرُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا أَمَّا بَعْدُ: أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ جَلَّ وَعَلاَ فَبِتَقْْْْْْوَاهُ تُفْلِحُوْا
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Segala puji bagi Allah  Subhanahu wata’ala atas keutamaan dan kebaikan-Nya terhadap para hamba-Nya. Saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah Subhanahu wata’ala semata, tidak ada tandingan bagi- Nya. Saya bersaksi pula bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan- Nya yang telah menyampaikan risalah dengan penuh amanah. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada beliau dan keluarganya, serta para sahabat dan seluruh kaum muslimin yang mengikutinya.

Hadirin rahimakumullah, marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wata’ala dan menaati-Nya dengan penuh cinta kepada-Nya dan harapan untuk memperoleh balasan dari-Nya, serta takut dari siksa-Nya. Dialah Allah Subhanahu wata’ala satu-satunya yang berhak kita ibadahi dengan penyerahan diri kepada-Nya yang dibangun di atas pengagungan dan kecintaan yang penuh di dalam hati kita. Bagaimana kita tidak mengagungkan- Nya, sedangkan Dialah satu-satunya Yang Mahabesar dan Maha sempurna dari segala kekurangan? Bagaimana pula kita tidak mencintai- Nya sedangkan fitrah manusia telah dibuat untuk mencintai pihak yang berbuat baik kepada dirinya? Padahal tidak ada satu nikmat pun yang kita rasakan kecuali hal itu adalah pemberian- Nya, sebagaimana dalam firman-Nya,

وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya).” (an-Nahl: 53)

Maka dari itu, sudah semestinya setiap hamba mencintai Allah  Subhanahu wata’ala dengan sebenar-benar cinta, yaitu dengan bukti nyata yang menjadi tanda cintanya kepada Allah  Subhanahu wata’ala , sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya,

لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Katakanlah (wahai Muhammad), “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali Imran: 31). 

Dari ayat di atas kita mengetahui bahwa di antara
tanda cinta seseorang kepada Allah Subhanahu wata’ala adalah mengikuti petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Adapun sekadar seseorang mengaku cinta namun kenyataannya dia justru menyelisihi petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sesungguhnya dia berdusta meski dirinya mengaku mencintai Allah  Subhanahu wata’ala. 

Hadirin rahimakumullah, Termasuk bukti kejujuran cinta seseorang kepada Allah  Subhanahu wata’ala adalah mendahulukan cintanya kepada Allah daripada kecintaan terhadap dirinya, harta, kerabat, atau hal lain yang ia senangi. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
Katakanlah, “Jika bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri-istri dan keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan dan perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya, serta tempat tinggal yang kalian sukai lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta dari berjihad di jalan-Nya, tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orangorang yang fasik.” (at-Taubah: 24)

Di dalam ayat ini, Allah Subhanahu wata’ala memerintah Nabi-Nya untuk mengingatkan ancaman Allah Subhanahu wata’ala terhadap orang-orang yang mengedepankan cintanya terhadap delapan hal, seperti keluarga, harta, tempat tinggal, dan yang lainnya, hingga lalai menjalankan amalan yang diwajibkan oleh Allah Subhanahu wata’ala, seperti jihad, hijrah, dan semisalnya. Tidak ada yang dia tunggu selain datangnya hukuman Allah Subhanahu wata’ala.

Oleh karena itu, kita dapatkan para sahabat dahulu adalah sosok yang luar biasa dalam hal kecintaan mereka kepada Allah Subhanahu wata’ala. Begitu pula generasi berikutnya yang mengikuti jejak mereka dari kalangan tabi’in dan seterusnya. Mereka siap mengorbankan jiwa dan hartanya untuk menjalankan kewajiban yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wata’ala. Bahkan, para sahabat meninggalkan tempat tinggal dan keluarga mereka untuk menjalankan kewajiban hijrah pada masa itu. 

Hadirin rahimakumullah, bagaimana keadaan sebagian kaum muslimin pada masa sekarang ini? Kalau kita bandingkan dengan masa generasi pertama di umat ini, akan kita lihat perbedaan yang teramat jauh. Di masa sekarang ini, kita dapatkan banyak kaum muslimin yang lebih mendahulukan keinginan hawa nafsunya daripada menjalankan ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala. 

Lihatlah betapa banyak orang yang mengedepankan keinginannya untuk istirahat, tidur, bermain-main, dan semisalnya, sehingga tidak pergi ke masjid untuk memenuhi panggilan azan. Lihatlah pula, betapa banyak kaum muslimin sibuk dengan pekerjaan dan usahanya, mendahulukan mencari dunia daripada melaksanakan perintah Allah Subhanahu wata’ala untuk menjalankan shalat. Ia pun terjatuh pada pelanggaran terhadap perintah Allah Subhanahu wata’ala yang disebutkan dalam firman-Nya,

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ 

“Wahai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, bersegeralah kalian kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, hal itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui.” (al-Jumu’ah: 9)

Di sisi lain, banyak di antara kaum muslimin yang melakukan bisnis dengan cara riba, menipu, atau cara-cara haram lainnya. Masih banyak juga di antara orang-orang yang kaya tidak mau mengeluarkan hartanya di jalan Allah Subhanahu wata’ala. Semua ini menunjukkan, banyak kaum muslimin yang mengedepankan cintanya kepada harta daripada kecintaannya kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Hadirin rahimakumullah, demikianlah sebagian keadaan kaum muslimin di masa sekarang ini yang menunjukkan ketidakjujuran dalam kecintaannya kepada Allah Subhanahu wata’ala. Mudah-mudahan apa yang kami sampaikan bisa menjadi peringatan. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wata’ala mengampuni dosa-dosa kita dan dosa-dosa kaum muslimin. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun atas kesalahan hambahamba- Nya.

Selasa, 09 September 2014

Bahaya Kelalaian

Khutbah Jum'at  5 September 2014
Masjid Miftahul Iman Rejo binangun
Oleh Bapak Sutarman

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدَ الشَاكِرِيْنَ ، وَأُثْنِيْ عَلَيْهِ سُبْحَانَهُ ثَنَاءَ المُنِيْبِيْنَ اَلذَّاكِرِيْنَ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ  إِلَهَ الْأَوَّلِيْنَ وَالآخِرِيْنَ وَقُيُوْمُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِيْنَ وَخَالِقِ الخَلْقِ أَجْمَعِيْنَ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُهُ وَخَلِيْلُهُ وَأَمِيْنُهُ عَلَى وَحْيِهِ وَمُبَلِّغِ النَّاسَ شَرْعَهُ ؛ فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ .
أَمَّا بَعْدُ أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ عِبَادَ اللهِ : اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى ، اِتَّقُوْا اللهَ فَإِنَّ مَنِ اتَّقَى اللهَ وَقَاهُ وَأَرْشَدَهُ إِلَى خَيْرٍ أُمُوْرٍ دِيْنِهِ وَدُنْيَاهُ .

Hadirin sidang jum'at yang dimulyakan Alloh SWT....
Allah Ta’ala telah memberikan kepada kita semua kebaikan hati dan kekuatan pikiran, sehingga kita harus selalu berhati-hati dari kelalaian, dan ketergelinciran , dan senantiasa berlindung kepada Allah dari keduanya.

Raghib al-Asfahani berkata: goflah adalah kealpaan yang menjangkiti seorang manusia disebabkan kurangnya kesadaran dan penjagaan.

Juga ada yang mengartikan : goflah adalah menuruti semua keinginan hawa nafsu.
Juga ada yang mengartikan : goflah adalah engkau meninggalkan masjid, juga engkau menta’ati mufsid (perusak), dan ada yang mengartikan : goflah adalah menghabiskan waktu dengan menganggur.

Telah diriwayatkan dari hadits Anas radiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam  sering berdo’a : Ya Allah aku berlindung kepadamu dari kelemahan, kemalasan, kekikiran, kepikunan, kekerasan hati, kelalaian, kehinaan dan kemiskinan. (HR.Ibnu Majah). Ketahuilah rusaknya jiwa disebabkan hawa nafsu dan syahwat yang menguasai, dan rusaknya hati disebabkan kelalaian dan kekerasan hati. 

Allah Ta’ala berfirman :
وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ.
Artinya : Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.(QS.Al-A’raaf : 205).

Umair bin Habib Al-Khatmi radiyallahu ‘anhu berkata: Iman itu bertambah dan berkurang, lalu ia ditanya : bagaimana iman bertambah dan berkurang? Umair menjawab : jika kita mengingat Allah dan takut kepadanya, ketika itulah iman bertambah, dan jika kita lalai dan lupa maka ketika itulah iman berkurang.

Dan jika hati diberi gizi dengan dzikir, disiram dengan tafakkur, dibersihkan dari sifat hasad, disucikan dengan kitab dan sunnah, dan ia mengetahui tauhid yang murni dari campuran kesyirikan, bid’ah dan khurafat, ia akan terjaga dari kelalaian dan akan bangkit dari ketergelinciran. Adapun orang yang dikuasai oleh kelalaiannya, maka akan besar penyesalannya, dan barangsiapa yang panjang tidurnya, maka akan lama kesedihannya. Barangsiapa yang lupa sesuatu yang seharusnya diingat, berarti ia telah menyia-nyiakan kesempatan, dan barangsiapa yang lebih mengutamakan menganggur di musim keberuntungan dan meninggalkan menanam di waktu penaburan benih, berjalan lambat di waktu perlombaan, serta malas melangkah di lapangan pertandingan, maka sungguh ia akan terhalang dari kebaikan dan akan dihina karena kemalasan. 

Hawa nafsu memang selalu mengajak kepada hal-hal yang dilarang, dan selalu menghalangi dari keta’atan. Maka barangsiapa yang lalai dari meluruskan kebengkokannya, dan dari memperbaiki jalannya, maka ia akan dikalahkan oleh kecurangannya dan akan tertipu oleh rayuannya.
“Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.”
Orang-orang yang lalai selalu lupa dan berleha-leha, dan mereka selalu berpaling dari kebaikan yang diinginkan untuk mereka, mereka tidak mendatangi shalat kecuali dalam keadaan bermalas-malasan, mereka merasa berat mengerjakannya, dan mengakhirkannya dari waktunya, mereka juga tidak melakukannya dengan berjamaah, beginilah keadaan mereka dalam masalah shalat, padahal shalat adalah amalan yang paling mulia, yang paling utama dan yang paling baik.

Mereka memboikot Alquran, ingin dilihat dan dipuji oleh manusia, dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit. Mereka berpaling dari majlis-majlis dzikir, majlis ilmu, majlis nasihat dan kebaikan, sebaliknya mereka bersegera menuju majlis senda gurau dan permainan, serta tempat-tempat nyanyian, musik, joget, porno, dan keji. Mereka juga berlomba-lomba menuju tempat-tempat kemungkaran, tempat fitnah dan kelalaian, mereka juga berlindung ke tempat-tempat yang memamerkan hal yang diharamkan, serta tempat-tempat yang menghidangkan minuman keras dan memabukkan, yang menjual obat terlarang yang dapat membusukkan mulut dan membakar darah, serta merusak pikiran, serta membuat lupa ingatan, juga menjadikan sakit orang yang sehat dan menjadikan hina seorang yang mulia.

Wahai engkau yang lalai sadarlah sebelum kalian mati
Sebelum dipegang kaki dan ubun-ubun
Semua manusia esok akan berdiri
Mereka tidak berkata-kata bukan karena bisu dan tuli
Semua makhluk sibuk dan padang mahsyar mengumpulkan mereka
Allah akan bertanya kepada mereka tentang yang halal dan haram.
Telah dekat kepada manusia hari dihisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya). Tidak datang kepada mereka suatu ayat Alquran pun yang baru (diturunkan) dari Tuhan mereka, melainkan mereka mendengarnya, sedang mereka bermain-main, (lagi) hati mereka dalam keadaan lalai.

Semoga kita semua terhindar dari sifat lalai dan melupakan Alloh SWT.  amin.. amin.. ya Robbal alamin...

Demikian khutbah jum'at yang dapat saya sampaikan kurang lebihnya saya mohon maaf.




Wallahul Muwafiq Ila Aqwamit Thoriq Wassalamualaikum Wr. Wb.


 
KULTUM ISLAMI Copyright © | Template designed by Ali Imron | SEO by Islamic Blogger Template